Mari Diskusi


Bila ada hal yang kurang berkenan terkait dengan konten yang ada di Padarakan atau pun pengajuan mitra kerja dengan kami, sobat dapat langsung menghubungi kontak kami di bawah ini :

WhatsApp : 085726163642 (Ruli)
Handphone : 085726163642 (Ruli)
Line : rulisakti
Alamat : Jalan Hansip Timur RT 07/01, Maoskidul, Maos, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia
Surel Redaksi : redaksi.pancarobaku@gmail.com
Periklanan : redaksi.pancarobaku@gmail.com

Admin :


Ruli Rukmana Sakti


Padarakan merupakan salah satu bagian dari Group Pancarobaku. Kami berharap, Padarakan nantinya dapat memberikan wadah bagi kita semua untuk berbagi mengenai banyak hal. Namun, untuk sekarang memang kami fokuskan pada karangan bebas dan dan beberapa cerita asli dari saya untuk sobat semua. Jika sobat suka menulis dan ingin karyanya di publish oleh kami, silahkan hubungi kami terlebih dahulu lalu kirimkan karya sobat ke surel redaksi yang sudah kami sediakan. Terima Kasih. Salam Indonesia Muda!

Ceritaku Tentang Bidang Pengabdian Masyarakat BEM FH Undip


Satu tahun masa kepengurusan di Bidang Pengabdian Masyarakat (Dimas) akan terlewati. Ya, banyak cerita yang kudapat di sini. Banyak pengalaman yang tentunya tertanam dalam memoriku ini. Ada pula beberapa konsep dan gagasan yang sebenarnya ingin ku usung untuk "Dimas" di tahun yang akan datang.

Namun, banyak hal yang menghalangi atau lebih tepatnya menghambat diriku agar berani menapakkan kaki di sana.

Dapat ku katakan bahwa ketika kita masuk Dimas, kita harus terbiasa hidup dalam tekanan. Bekerja dalam tekanan dan belajar dalam tekanan. Berpikir cepat dalam mengambil keputusan juga dituntut kreatif dengan apa yang ada. Entah bidang yang lain, namun bidang ini bagiku adalah laboratorium yang pas untuk mewadahi segala eksperimen dan ide gila tentang konsep pengabdian. Hanya satu yang belum dapat ku asah di sini, yaitu teknis menggetarkan jiwa dengan tulisan.

Tak dapat dipungkiri Dimas merupakan salah satu team bagiku yang tak tergantikan sampai kapan pun jua. Suatu saat nanti, jika kuingin membuat suatu proyek besar dapat kupastikan ada bagian untuk mereka. Karena, selama ini aku sangat menikmati kerja bersama di dalamnya.

Tak kan ada habisnya jika membahas tentang kenangan di Dimas. Mungkin untuk permulaan, segini dulu ya. Sampai jumpa di cerita berikutnya.

Ujian Telah Usai!

Selamat siang sobat, semoga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan untuk menjalani hari ini ya. Untuk kalian yang masih SMA dan sedang berjuang meraih impian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bagaimana hasilnya? Sudah amankah dengan SBMPTN dan SNMPTN? atau mungkin sudah diterima di perguruan tinggi dengan jalur yang lain? Selamat ya, jangan lupa bersyukur dan berbagi. Tetap beri dukungan bagi kawan kita semua yang masih diberi kesempatan lebih dari Tuhan untuk bertarung dengan usaha dan doa. Oh ya, jangan lupa urus segala administrasinya dengan baik ya sobat.



Bagi sobat yang belum mendapatkan kampus impiannya, tak masalah. Jalani saja, usaha terus, berdoa terus dan jangan lupa perbanyak sedekah. Apa salahnya ya kan berbagi kebahagiaan dengan sesama? Niatkan saja semoga kebahagiaan mereka akan memancar dan menjadi kebahagiaan kita juga. Tetap semangat!

Sobat, siapapun yang nantinya akan membaca tulisan ini. Walaupun sangat amat jarang dan tidak mungkin untuk dapat berkembang seperti blog kebanyakan lainnya. Namun saya yakin, dengan tulisan asli dari lubuk hati ini tentu ada poin tersendiri yang dapat dirasakan oleh pembaca. Pun saya sebagai orang yang menuliskannya juga merasa lega karena dapat mencurahkan isi hati secara bebas dalam tulisan tulisan ini. Jadi, selamat menikmati ya. Jika ada tutur kata yang kurang berkenan, sungguh itu murni dari diri saya.

Okay, karena tadi sempat menyinggung tentang sedekah. Mungkin kali ini saya akan coba berbagi beberapa hal menarik tentang sedekah. Percayakah kalian bahwa Tuhan itu Maha Baik dan terkadang memberikan seseuatu yang tidak kita sangka sama sekali? Apapun agama kalian pasti yakin akan hal tersebut. Pun jika sobat masih belum percaya akan adanya Tuhan, coba saja sobat berada pada titik terendah. Saya rasa lama kelamaan sobat yakin bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti ada yang menciptakan.

Jum'at kemarin, saya sudah selesai menuntaskan segala macam rangkaian UAS. Ujian kali ini terbilang menantang, karena saya dituntut untuk lebih memahami beberapa istilah dari Bahasa Belanda.Sangat menarik bukan? Di sisi lain saya harus berpikir keras untuk membagi uang yang tinggal Rp. 5000,- untuk keperluan seminggu ke depan.

Minggu kemarin, saya tertolong oleh sobat saya yang entah mengapa sangat baik. Syam. Talangan untuk minggu berikutnya pun dia bersedia untuk menanggungnya. Tapi, bukan tentang menolak sebuah rezeki atau pun tidak menghormati pemberian. Kurasa untuk saat ini, saya sudah banyak sekali merepotkannya. Definisi sahabat yang hakiki. Bahkan, saya kira malah saya yang tak bisa memberi apa-apa untuknya. Sok-sokan bahas sedekah tapi saya pun bingung ingin bersedekah dengan apa dan dengan cara bagaimana?

Kembali ke UAS. Hari ini ujian telah selesai. Separuh dari beban hidup terasa hilang sekejap saja. Namun, masih dalam masalah yang sama. Bagaimana caraku untuk memanfaatkan uang ini dengan sebaiknya. Pikirku, mungkin nanti setelah ini saya bisa membuat beberapa artikel untuk dijual. Setidaknya ada Rp. 5000,- lagi biar aman untuk minggu berikutnya. Setelah selesai menyelesaikan UAS saya langsung bergegas untuk turun ke pilar gedung A. Kebetulan hari ini ada agenda rapat untuk membahas suatu proker dari divisi acara. Dan saya pun ada dalam bagian itu. Setelah berdiskusi, dan menyelesaikan rangkaian rapat. Ada salah seorang rekan dari divisi acara menghampiri. Maaf sobat, saya tidak bisa menyebutkan namanya di sini. Saya yakin, dia pun tidak ingin namanya ada di sini. Setelah berbincang sedikit, dia bilang, "Rul, ini ada titipan dari Ibuku."

Apakah kamu tahu sobat apa titipan tersebut? 

Uang berwarna biru diberikannya langsung dan segera melambaikan tangan untuk pamit. Tak ada angin tak ada hujan, entah bagaimana caranya Tuhan tahu isi hati setiap hambaNya. Saya yang hanya berharap mendapatkan Rp. 5000,- saja untuk hari ini, malah diberi kesempatan untuk menikmati uang sejumlah 10 kali lipatnya. Bukankah suatu hal yang tak terduga? Betapa romantisnya Tuhan ada untuk kita?

Tak hentinya rasa terima kasih ini saya sampaikan kepada Tuhan maupun sobatku itu yang sebagai perantara. Semoga selalu dimudahkan rezekinya dan diriku pun tidak malas untuk ke depannya. Saya takut, jika saya diberi akan timbul suatu rasa di hati, "ahh tenang, punya banyak teman ini". Dan selamanya saya akan bergantung pada orang lain. Saya harap saya tidak begitu. Saya menceritakan hal ini pun bukan maksud ingin dikasihani, namun memberikan gambaran bagi sobat semua bahwa Tuhan kita itu Maha Baik. Maha Asyik.

Jangan pernah menyerah dengan keadaan sobat. Bukankah suatu makanan akan terasa enak jika kita santap setelah puasa? Bukankah uang yang hanya Rp. 10.000,- saja sangat bermakna jika selama seminggu kita tidak punya apa-apa? Mari kita jadikan ujian-ujian ini sebagai tolok ukur kebahagiaan yang akan kita dapatkan di kemudian hari setelah kita mampu melewatinya. Semangat dan sukses selalu! Indonesia Muda!

Awal Sebuah Cerita



Memang benar bahwa hal tersulit ialah mengawali. Begitu pun halnya dengan awal kisah di blog ini. Terlebih, dalam faktanya blog sudah kurang menarik. Jarang kita temui blog yang menawarkan kisah diri maupun catatan sehari-hari.

Tapi, kembali lagi. Apa salahnya mencoba untuk mengawali?

Teiring syukur kepada Allah SWT akan indahnya hidup ini. Walau hidup tiada abadi, namun saya rasa catatan dapat membuatnya kekal. Cerita diri dapat tersimpan rapi dalam tulisan. Ya, itulah sebabnya Padarakan bermula.

Dalam laman ini, saya akan curahkan buah pikir maupun olah rasa yang saya punya. Termasuk di dalamnya perihal hidup, masa belajar, keluarga atau bahkan cinta. Mungkin akan menjadi hal yang membosankan, bukan? Tapi, saya kira itu cukup untuk mendamaikan diri maupun nurani.

Jika kawan sudah pernah bertemu saya sebelumnya, mungkin ini akan memberi gambaran yang berbeda atas pandangan kawan terhadap saya. Atau bahkan tidak sama sekali. Sungguh, dalam hal ini saya tidak menggiring opini agar kawan beranggapan suatu hal tentang saya. Ini adalah murni tulisan saya dan beginilah saya.

Tujuan lain yang saya ingin dari laman ini, tentu saya harap ini dapat menjadi seperti prasasti bagi sang buah hati nanti. Terdengar muluk ya? Namun, dengan kesungguhan hati saya ingin memberi gambaran apa yang saya alami saat ini dan mudah-mudahan dapat menjadi pegangan agar tidak mengulangi kesalahan yang saya alami maupun jadi pacuan bagi mereka di kemudian hari. Ya, mereka. Karena saya rasa buah hati bukan terpaku pada anak saja.

Kembali ke Padarakan. Apakah kawan sudah tahu arti dari Padarakan? Padarakan dapat diartikan sebagai rakyat jelata, wong asor, atau bahkan sesuatu hal yang nista. Sampai saat ini saya masih belum menjadi siapa-siapa dan saya rasa saya termasuk dalam rakyat jelata. Semoga tulisan dari rakyat jelata, rakyat yang biasa saja ini dapat menggetarkan hatimu ya, kawan.

Sekian, tak usah panjang lebar. Terima kasih sudah membaca sampai titik ini. Semoga kebahagiaan senantiasa menyelimuti harimu!


Sumber Foto : Dokumen Pribadi
Sumber Artikel : Asli Opini Penulis